Showing posts with label vlog. Show all posts
Showing posts with label vlog. Show all posts

Thursday, February 07, 2013

Vine: microvlogging is here


Penggunaan media video untuk blog (vlog) atau social media termasuk tidak populer di Indonesia. Penyebabnya apa lagi kalau bukan kecepatan internet bak siput. Sudah lambat & tidak stabil, ditambah dengan jumlah data yang diupload/didownload, memakan quota internet subscription hingga ratusan megabyte, membuat user malas menggugah & viewer malas menonton kalau ngga penting-penting amat.

Selain masalah koneksi, masalah lain yang kerap muncul adalah kualitas video yang berhubungan dengan kemampuan alat atau kemampuan user mempersiapkan materi video yang harus diolah dengan musik dan teks. Belum lagi kasus vertical video syndrome, merekam video dengan posisi smartphone vertical, bukan horisonal atau landscape.

Kini ada Vine - social video resmi dari Twitter - yang lebih mobile friendly. Coba ditelusuri karakteristik dari Vine ini.

Tap to record

Untuk merekam, jari harus menyentuh layar iPhone. Jika dilepas, maka kamera akan pause. Dan merekam lagi saat jari menyentuh layar kembali. Ini biasa disebut edit-while-record di handycam. Dengan feature ini, satu file video bisa terdiri dari beberapa cut. Dan ide pun berkembang, banyak yang berkreasi membuat video tutorial singkat cara membuat masakan, step by step menggambar komik, bahkan berkarya stop motion/animasi video dengan app ini. Atau membuat video sulap amatir "now you see it, now you don't!"


Resolusi: square 480 x 480 pixel

Bandingkan dengan video recording app lain by default merekam dengan ukuran full HD 1920 x 1080 pixel atau HD 1280 x 720 pixel, Vine membuat ukuran mungil sendiri seperti layaknya Instagram: square 480 x 480 pixel. Dengan mungilnya ukuran resolusi gambar, otomatis membuat besar file yang diupoad tidak besar.

Dan dengan ukuran gambar kotak persegi, tidak ada lagi kesalahan amatir merekam video dengan posisi vertical, karena tegak atau tidur tetap sama. No more vertical video syndrome! Saya pun bisa merekam video diam-diam dengan posisi tegak, tanpa harus memutar iPhone ke posisi landscape.

Video format

Vine menggunakan format mp4 dengan codec H.264. Format ini tidak hanya menjadi standard video file di iOS, tapi juga di kamera digital. Teknologi codec H.264 bisa meng-compress file jadi sangat kecil tapi kualitas gambar tetap relatif terjaga.

(click untuk lihat file video di browser)

Dengan digunakannya codec H.264 & resolusi rendah (480 x 480) besar file tidak lebih dari 1MB. Seperti contohnya video cake ini, file size-nya hanya 866KB. Tidak sampai 1MB! Konsumsi data pun bisa dihemat.

The magic of 6 seconds

"Hah? Cuma 6 detik? Mau merekam apa?"
Buat sementara orang merekam video hanyak 6 detik bisa menjadi kendala. Tapi justru itulah tantangannya. Atau justru itulah benefitnya, bagaimana merekam sebuah momen dalam waktu yang pendek dengan berbagai angle kamera, tanpa ba bi bu langsung upload dalam waktu yang singkat.

Dan semakin pendek video, justru semakin tinggi kemungkinan orang untuk menonton. Sinopsis tertulis di Twitter, visual video tayang di Vine. Microblogging & microvlogging. 140 characters & 6 seconds.

Be spontaneous!

Vine tidak membuka akses ke Camera Roll sehingga tidak memungkinkan untuk menggunakan materi pre-recorded video. Video yang diupload adalah video yang direkam saat itu juga. Mau bikin timelapse video juga monggo, asal sabar atau pakai tripod kecil. Bikin stop motion juga monggo. Tapi pada dasarnya Vine mempermudah user untuk SEGERA merekam momen dan menggugahnya. Kemudahan ini membuat Vine mulai dilirik para jurnalis seperti ditulis dalam artikel ini.

Untuk saat ini Vine hanya tersedia untuk iOS devices. Namun tidak lama lagi akan tersedia untuk platform lain.
Akankah Vine bisa menaikkan popularitas penggunaan social video di Indonesia? Kita lihat saja.

Related story:
- Having fun with Vine

Monday, March 07, 2011

Is The iPhone 4 Ready For Video Post Processing?

It depends.
If you're doing it for fun, video-blogging, you may force the iPhone 4 to do video post-processing.
If you're doing it for pro, record on the iPhone 4 then edit it on desktop (yes you can put 'semi' word before 'pro' ^_^)

2 reasons.

1. It's a phone.
Its main function is a communication device. Rendering a video can take forever on this device & some apps are not natively multiprocessing. Anticipate a phone call while rendering. A phone call means interrupted rendering process. Not to mention the battery life. Don't try to render your edited video while far from electricity outlet. "Sorry I can't get your call, my phone is still rendering & the battery is low."


Takes 30 mins to render this 45 seconds video. 30 mins without receiving any phone call :D

And since it's a phone, you have to get used to edit in a small multitouch screen with your finger. iMovie for iPhone is great, but keep in mind that from desktop to tiny multitouch screen is another learning curve: finger editing.

2. Quality matters.
Color-correction is a critical process in video post processing. Without proper compression method, the video file will be 'damaged' due to inappropriate lossy data compression algorithm.
For instance, CinemaFX for video is the coolest color-grading app for iPhone 4. Problem is, by default it compresses the video from the Camera Roll, means that you'll get a video with blocky compressed quality - not the original.

Don't expect some Sorenson, DV-Pal or any professional video compression codecs for iOS anytime soon.


Try watch the video in HD to see the comparison.

iMovie for iPhone on the other hand, is using H.264 compression, which is good enough for final video. But not good enough to do multiple post-procs.

Is it ready for video post-processing?
"Hello? I'm shooting a video right now with my iPhone. Can I call you back?"

Sunday, December 19, 2010

iPhone 4 Sebagai Vlogging Device

iPhone 4

Saat mencoba pertama kali, saya bisa menobatkan iPhone 4 sebagai the ultimate vlogging device. Kemampuannya mengambil video sudah sangat cukup untuk ukuran 'perangkat genggam': 720p (half HD). Tapi yang membuat saya jatuh cinta adalah kemampuannya saat melakukan paska produksi & publikasi. Record, snap, quick edit, upload.

Paska produksi: iMovie for iPhone
Sejauh pengalaman saya (yang terbatas), ini aplikasi video editing yang terbaik untuk ukuran perangkat genggam. Interfacenya sangat finger-friendly - saya menyebutnya finger-editing - semua dilakukan dengan jari. Dibanding saudaranya iMovie for Mac - app ini tidak memiliki feature layers timeline, tidak ada color-correction atau audio adjustment. Walau begitu, iMovie for iPhone cocok untuk editing offline atau video blogging. Apalagi update terbaru sudah dilengkapi feature CUT clip - (sebelumnya hanya bisa TRIM clip, sangat tidak praktis untuk memotong clip panjang.)
Dari iMovie, video bisa di-export dalam 3 pilihan ukuran yaitu 720p, 540p & 360p. Berguna buat kaum dhuafa bandwith.

Broadcasting
Ada banyak cara untuk upload video. Bisa dari iMovie langsung ke YouTube atau email ke TwitVid. Ada keterbatasan saat upload video via email: maksimal durasi yang bisa dikirim hanya 1 menit. Lebih dari 1 menit harus di-trimming.
Solusinya menggunakan TwitVid app for iPhone, gratis & tidak ada limit durasi/size. Dalam hitungan menit, jika kecepatan internet cukup manusiawi, saya sudah bisa publish vlog saya.

Archiving
Satu kata: iPhoto. Konsistensi integrasi hardware software produk Apple membuat saya tidak bisa lepas dari iPhoto ini. Bukan masalah kemudahan import data dari device saja, tapi juga kemudahan mengelola arsip dokumentasi pribadi. Buat ada merekam video jika tidak bisa dilihat atau dipakai untuk blogging 10 tahun kemudian?

Ada banyak pilihan vlogging handheld device di luar sana, terutama dari barisan Android OS smartphone atau Nokia N8. Semua menawarkan kecanggihan hardware, namun bagi saya yang terpenting adalah experience-nya dan iMovie for iPhone adalah jawaban bagi software experience yang saya cari: Record, snap, quick edit, upload.

Berikut contoh video-video yang saya rekam & edit di iPhone 4.

Arwen berangkat sekolah


Lari pagi


Bus trip


Neo & kijang


Shawarma

Wednesday, February 27, 2008

Kuwait at its 47th Birthday

Beginilah kira-kira suasana Kuwait menjelang dan di hari kemerdekaannya yang ke 47 di tanggal 25 Februari ini. Cukup meriah walau cenderung rusuh :D

Hala Februari


Suasana jalan Salem Al Mubarak, diakhiri perkelahian di depan KFC

Suasana Hala Februari di tanggal 15 Februari di jalan Salem Al Mubarak. Jalanan ditutup untuk kendaraan roda empat dan dipenuhi massa yang menyaksikan hiburan.
Read more here.

Party Foam Sprayer


Siapa pun kudu siap jadi sasaran semprotan busa pesta ini. Video by Aji


Beginilah perilaku bocah-bocah Kuwait saat jelang dan hari kemerdekaan Kuwait : bermain dengan penyemprot foam untuk pesta. Mereka cenderung rusuh semprot sana semprot ini, jika perlu ke badan atau wajah orang lain. Pemuda-pemudinya pun melakukan hal yang sama dengan sasaran mobil-mobil yang sedang parkir atau kebetulan lewat. Aktivitas ini sering berujung perselisihan dan perkelahian. Polisi terpaksa menyita sprayer ini jika situasi sudah tidak terkontrol. Heran... mau seneng2 atau cari ribut sih?
Read more here.

Bendera 'Banner' Kuwait



Jarang ada warga Kuwait yang mengibarkan bendera negaranya di tiang bendera di rumahnya. Yang sering kami saksikan adalah : mereka menggelar banner/bendera besar Kuwait dengan lebar 2 meter-an. Mentang-mentang rumah mereka gede, maka bendernya juga segede gaban.
Read more here

Lampu hias di 5th Ring Road



Lampu menghiasi Bayan Palace, Water Tower dan 'Clock Tower' di tepi 5th ring road. Warga pun juga ngga mau kalah, turut menghiasi rumah mereka dengan lampu hias yang terang benderang. Berapa besar ya konsumsi listrik negara ini? :D